Ads

Makhluk Dalam Legenda & Mitos part.6

Rusa Kerineia



Dalam mitologi Yunani, Rusa Kerineia, juga disebut Kerinitis, adalah seekor rusa besar yang hidup di Keryneia, Yunani. Rusa ini adalah binatang keramat dewi Artemis, dewi bulan dan dan perburuan. Rusa in memiliki tanduk emas dan kuku dari kuningan atau tembaga. Rusa ini mampu berlari lebih cepat daripada panah. Euristheus memerintahkan Herakles untuk menangkap rusa ini sebagai tugas ketiga Herakles.

Rusalka



Dalam mitologi Slavia, rusalka adalah makhluk perempuan yang hidup di air.

Menurut sebagian besar tradisi, rusalka merupakan perempuan ikan, yang tinggal di dasar sungai. Rusalka berasal dari para perempuan yang meninggal di sungai. Pada tengah malam para rusalka muncul dari dalam sungai lalu menari dan menyanyi untuk memikat para pria yang lewat. Pria yang terpikat oleh rusalka akan berjalan ke sungai dan tenggelam. Ada juga rusalka yang memikat pria dengan menyanyi sambil menyisir rambutnya di atas pohon.

Meskipun dalam beberapa cerita, mata mereka berwarna hijau terang, sebagian bsar versi menggamberkan mereka berwajah pucat dan berkulit tembus pandang, juga tanpa pupil. Rambutnya kadang-kadang dikatakan berwarna hijau atau emas dan selalu basah. Rusalka tidak bisa tinggal lama di atas permukaan, tapi sisir mereka bisa mengeluarkan air untuk membasahi rambut mereka, jika rambutnya kering maka rusalka akan mati.

Satir



Dalam mitologi Yunani, Satir adalah makhluk penghuni hutan-hutan dan pegunungan, dan memiliki hubungan yang dekat dengan Dewa Pan dan Dionisos dalam mitologi Yunani. Biasanya mereka berjenis kelamin pria.

Pemimpin mereka bernama Silenus, Dewa kecil yang mengatur kesuburan. Karakter Satir dalam mitologi Yunani sering disamakan dengan Faun dalam mitologi Romawi. Mereka sering dilukiskan sebagai manusia bertanduk dan berkaki kambing, rambutnya keriting, hidungnya pesek, ekornya tebal dan panjang, telinganya meruncing atau kadang-kadang seperti telinga kuda. Satir yang masih bocah belum memiliki tanduk yang sempurna sedangkan Satir yang tua sudah memiliki tanduk kambing yang sempurna. Biasanya Satir yang sering muncul dalam dongeng-dongeng berjenis kelamin pria, namun kadang-kadang ada Satir betina.

Karakter Satir muncul dalam beberapa pementasan, seperti: “Cyclops” karya Euripides dan “The Searching Satyr” karya Sophokles.

Satyr biasanya senang minum anggur, sehingga akrab dengan Dewa Dionisos. Mereka juga senang bermain seruling, castanet, bagpipe, atau simbal dan tergila-gila untuk menari bersama para nimfa yang mereka kagumi dan mereka idolakan. Mereka memiliki tarian khusus yang mereka sebut Sikinis

Satir tidak hidup abadi sehingga terkena dampak usia tua seperti manusia. Satir jantan yang sudah tua berjenggot dan kepalanya botak. Prilakunya jelek dan tidak senonoh seperti yang digambarkan dalam mitologi Yunani.
Siren



Dalam mitologi Yunani, Siren atau ‘’’Seirenes’’ adalah makhluk legendaris, termasuk kaum Naiad (salah satu kaum Nymph yang hidup di air) yang hidup di lautan. Mereka tinggal di sebuah pulau yang bernama Sirenum Scopuli, atau menurut beberapa tradisi berbeda mereka tinggal di tanjung Pelorum, pulau Anthemusa, pulau Sirenusian dekat Paestum, atau di Capreae, yang mana semuanya adalah tempat-tempat yang dikelilingi oleh batu karang dan tebing. Mereka menyanyikan lagu-lagu memikat hati yang membuat para pelayar yang mendengarnya menjadi terbuai sehingga kapal mereka menabrak karang dan tenggelam.

Diduga mereka adalah puteri-puteri Achelous (dengan Terpischore, Melpomene, atau Sterope) atau Porchys. Menurut sumber (seperti “The Homer”) jumlah mereka berkisar antara dua atau lima. Beberapa sumber dikumpulkan sehingga jumlah mereka ada sembilan. Nama-nama individual mereka adalah:
  • Aglaophonos atau Aglaope
  • Leucosia
  • Ligeia
  • Molpe
  • Parthenope
  • Pisinoe atau Peisinoë
  • Raidne
  • Teles
  • Thelxiepia atau Thelxiope atau Thelxinoe
Menurut beberapa versi, mereka adalah teman bermain Persephone semasa kecil.

Di Yunani pada mulanya Siren dilukiskan sebagai burung berkepala besar dengan kaki bersisik, kadang-kadang sebagai bayangan hantu seekor singa. Kemudian, mereka dilukiskan sebagai sosok wanita berkaki burung, dengan atau tanpa sayap, memainkan alat musik, khususnya Harpa. “Suda”, Ensiklopedia abad ke-10, menerangkan bahwa wujud Siren dari dada ke atas menyerupai Burung Gereja, sedangkan badan bagian bawah adalah wanita, atau kadang-kadang, mereka dilukiskan sebagai burung kecil berwajah wanita. Wujud burung dipilih karena kelebihan mereka, yakni suaranya merdu. Kemudian, pada masa-masa berikutnya Siren juga kadang-kadang dilukiskan sebagai wanita cantik, atau bahkan sebagai puteri duyung. Dalam beberapa bahasa (seperti Spanyol, Perancis, Italia, Polandia, atau Portugis) kata yang digunakan untuk merujuk pada puteri duyung adalah “Siren”, “Sirena”, “Syrena”, atau “Sereia” yang membingungkan penerjemahan antara “puteri duyung” atau “Siren” (mitologi). Dalam bahasa Inggris, “Siren” tidak selamanya berarti “puteri duyung”.

Kisah pertemuan dengan para Siren diceritakan dalam kisah Odyssey. Suatu ketika, saat Odysseus harus melewati pantai berkarang yang dihuni oleh para Siren, ia menyuruh seluruh Awak kapalnya untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin agar tidak mendengar suara para Siren yang menghanyutkan hati. Ia sendiri ingin agar dirinya diikat pada tiang dengan tidak menyumbat telinga karena penasaran seperti apa nyanyian para Siren tersebut. Ketika ia mendengar suara merdu para Siren, ia memberontak dan menyuruh awak kapalnya agar melepaskan tali yang mengikat dirinya di tiang kapal. Para awak kapalnya menolak. Ketika kapal mereka sudah jauh dari Siren, Odysseus berhenti memberontak dan menjadi tenang, setelah itu dibebaskan. (Odyssei XII, 39).

Kisah pertemuan dengan para Siren juga diceritakan dalam petualangan Jason, Argonautica. Chiron memperingatkan Jason bahwa Orpheus kelak akan sangat berguna dalam perjalanannya. Ketika Jason dan kapalnya melewati pantai berkarang yang menjadi habitat para Siren, Orpheus mendengar suara mereka yang merdu. Lalu ia memainkan harpa dengan nyanyian yang lebih merdu daripada nyanyian para Siren. Karena merasa kalah, para Siren menceburkan diri ke laut.

Strigoi



Strigoi adalah roh yang Bangkit dari dalam kubur. Menurut mitologi Romania, strigoi dapat hidup bersama manusia melalui benda-benda tertentu. Strigoi bisa mengubah wujudnya menjadi binatang, bisa tak terlihat, dan mengisap darah manusia. Strigoi juga dikenal sebagai makhluk yang abadi.

Strigoi berbeda dengan moroi. Strigoi adalah kerabat manusia serigala yang dikenal sebagai "pricolici" atau "varcolaci".

Nama strigoi berasal dari striga, bermakna "menjerit" atau "kandang burung hantu". Strigoi sering disamakan dengan vampir atau zombie. Strigoi memiliki rambut merah, mata biru, dan dua jantung. Strigoi bisa berubah menjadi berbagai hewan, seperi misalnya burung hantu, kelelawar, tikus, serigala, anjing, ular, katak, kadal, laba-laba, dll.

Troll



Troll adalah makhluk buas sejenis raksasa dalam cerita-cerita rakyat Skandinavia. Mereka hidup di gua-gua yang dalam dan gelap, atau di dalam tanah. Mereka berukuran lebih besar daripada manusia dan memiliki tenaga yang besar. Karakter Troll mirip dengan Ogre (lafal: O-gêr) dalam cerita rakyat Inggris.

Dalam kisah-kisah fiksi fantasi atau games, karakter Troll sering dipinjam sebagai karakter pendukung. Dalam kisah The Lord of The Rings, Troll digunakan sebagai tenaga pengangkut Beban yang berat atau sebagai pasukan penghancur dari kerajaan kegelapan Mordor. Bersama para Orc, Troll menyerbu kerajaan Gondor. Dalam kisah Harry Potter, Troll sebagai makhluk raksasa yang dikurung di bawah tanah.

Tsuchinoko


Tsuchinoko adalah hewan yang dilaporkan ada di Jepang tapi belum pernah bisa dibuktikan (cryptid). Bentuknya seperti ular namun berperut gendut mirip botol atau pin boling dengan ekor yang kecil mirip ekor tikus. Hewan ini dilaporkan pernah "dilihat" saksi mata di berbagai tempat di Jepang, kecuali di Hokkaido dan Kepulauan Ryukyu. Hingga kini, tsuchinoko belum pernah berhasil ditangkap orang karena saksi mata menjadi takut, atau hewan ini lebih dulu melarikan diri.

Nama "Tsuchinoko" berasal dari nama lokal untuk "hewan" ini menurut penduduk daerah Kansai (Kyoto, Mie, Nara, dan Shikoku). Di daerah Kanto, penduduk menyebutnya sebagai bachihebi. Beberapa pemerintah daerah di Jepang menawarkan hadiah uang dalam jumlah besar bagi orang yang berhasil menangkap tsuchinoko. Hadiah uang sebesar 100 juta yen pernah ditawarkan kota Itoigawa, Niigata. 

Unicorn


Unicorn adalah makhluk dalam legenda yang wujudnya merupakan kuda, dengan sebuah tanduk di dahinya (kata “cornus” dalam bahasa Latin dihubungkan dengan kata “horn” yang berarti tanduk). Biasanya bulu Unicorn berwarna putih dan tanduknya berbentuk spiral. Darah Unicorn merupakan obat yang mujarab dan mampu membuat hidup abadi.

SHARE

Author

hai saya farland.seseorang yg sedang memahami dan menikmati dunia blog... I'am Blogger and Javascript Programmer.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

komentar anda sangat penting utk kemajuan blog ini.trimakasih utk kunjungannya...